Rabu, 11 Oktober 2017

Perspektif Wanita : Diam Bukan Solusi Terbaik Untuk Menyelesaikan Suatu Masalah

Assalamu'alaikum~

Sudah lama tak bersua di blog ini. Kali ini, aku akan bahas tentang sudut pandangku sebagai wanita tentang sebuah komunikasi dalam hubungan. Kenapa tiba-tiba bahas ini? Tak lain dan tak bukan, karena pengalaman pribadi dan mendapat beberapa "curhatan" dari teman-teman tentang komunikasi dalam hubungan mereka.

Untukku sendiri, suatu hubungan itu bukan tentang "Aku suka kamu + kamu suka aku = kita pacaran". Bukan. Sama sekali bukan. Untukku, hubungan adalah bagaimana dua insan dengan perbedaan watak dapat saling mengisi satu sama lain. Misalnya, aku adalah wanita ceroboh bin pelupa. Pernah suatu ketika meninggalkan dompet dan charger di kantor di hari Jumat, di mana esok harinya adalah weekend dan aku tidak pergi ke kantor. Terbayang dong, bagaimana paniknya karena harus balik ke kantor untuk ambil dompet dan charger itu? Sedangkan Masil adalah orang yang super teliti. Tidak sekali atau dua kali aku kena omel karena terlalu ceroboh. Tapi, Masil sadar betul kekuranganku. Cara menyikapinya adalah dengan dia yang selalu menjadi pengingat. Iya, pengingat. Ketika pulang kerja, misalnya, Masil selalu ingatkan hal-hal yang sering aku tinggalkan di kantor secara tidak sengaja. Problem solved!

Bersyukurnya, aku dan Masil bukan pasangan yang hobi beradu argumen. Entah karena memang cocok dan dapat saling melengkapi, atau karena Masil yang terlalu mengalah. Hahaha. Tetapi, sekali atau dua kali sempat bertengkar sebab aku yang penuh "kode" dan Masil yang "to-do-point-person". Masil dan mungkin beberapa pria lainnya mungkin lebih suka bila wanitanya tidak mengajukan keinginan dengan berkode ria. Mungkin mereka hanya ingin wanitanya to do point apa yang diinginkan. Misal, aku bukan tipe wanita mandiri. Aku pernah mencoba mandiri dengan pergi-pulang kerja sendiri menggunakan transportasi umum. Beberapa bulan awal, aku merasa aman dan baik-baik saja. Hingga suatu ketika, ada pria bersosok preman yang mengganggu. Tidak hanya sekali, hal tersebut terjadi hingga tiga kali. Risih? Jelas. Takut? Pasti. Kondisi tempat aku menunggu transportasi umum itu adalah sepi dan sudah malam pula. Akhirnya, aku kode ke Masil, bilang kalau aku takut pulang sendiri. Dijemput, sih, tapi sepanjang perjalanan diam aja. Jadi terkesan gak ikhlas. Padahal, mungkin Masilnya biasa aja. Mungkin "diam"-nya bukan karena jemput aku atau ada masalah yang berhubungan denganku, tapi karena sedang banyak kerjaan, atau hal lain yang dipikirkan, mungkin. Tapi, wanita kan sensitif dan perasa ya :(

Nah, pria "diam" ini yang jadi concern kami para wanita. Kenapa kalau ada masalah sama pasangannya, pria lebih pilih diam? Kenapa gak coba untuk didiskusikan dan dibicarakan baik-baik? Bagaimana bisa dimengerti tanpa memberi pengertian? Aku sudah sempat bertanya ke beberapa teman pria. Katanya, diamnya pria gak lebih dari; tidak ingin beradu argumen yang berujung dengan pertengkaran apalagi perpisahan. Dan tidak ingin membesarkan masalah kecil. Begitukah?

Menurutku dari sudut pandang wanita, aku lebih memilih untuk diskusi santai dari pada hanya diam. Karena dengan diam, aku tidak tahu apa yang pasanganku inginkan. Dalam kasus "menjemput sepulang kerja" di atas, misalnya. Kalaupun Masil keberatan menjemputku, ya utarakan. Karena aku tidak akan tahu ia keberatan atau tidak bila ia tidak mengutarakan. Begini, bukankah kamu juga tak akan tahu apakah orang di sebelahmu lapar atau tidak bila ia tidak mengutarakan kondisi perutnya? Bukankah kamu tidak akan tahu apa yang orang lain rasa bila orang tersebut tidak menceritakan kondisi hatinya? Bukankah pria selalu berkata bahwa "tidak semua pria punya indera keenam untuk mengetahui ingin wanitanya"? Lalu, apa kalian pikir wanita tidak seperti itu? Kami pun bukan peramal yang dapat tahu apa yang kalian rasa tanpa kalian beri tahu, kan? 

Ada satu contoh lagi. Temanku, sebut saja Ari. Ia memiliki pacar bernama Bunga. Bunga tipe wanita yang tidak melihat suatu barang dari fungsinya. Suatu ketika, ia minta dibelikan kamera polaroid seharga Rp 1.800.000 pada Ari dengan alasan "lucu" tanpa peduli dengan fungsi, kualitas dan tingkat kebutuhan. Ari dengan berbaik hati mengabulkan pinta sang kekasih. Tetapi ternyata, di belakang Bunga, Ari bercerita tentang pacarnya yang dianggap "tidak pengertian" karena meminta sesuatu tanpa mempedulikan kondisi finansial Ari.

Menurutmu dalam kasus Ari dan Bunga, siapa yang salah? Apakah Bunga karena tidak pengertian dan terkesan materialistis? Atau Ari yang bersikap pasrah mengabulkan permintaan Bunga?

Menurutku keduanya salah. Karena minimnya komunikasi dan keterbukaan antar pasangan.

  1. Ketika Bunga mengutarakan keinginannya mengenai kamera "lucu" tersebut, Ari bisa memberi pengertian tentang kondisi finansial dan alasan lain bahwa ia merasa keberatan dengan keinginan Bunga. Menurutku, memberi pengertian dan penjelasan akan lebih bijaksana ketimbang menuruti semua ingin pasanganmu, namun kamu melakukan protes secara tidak langsung dengan cara bercerita dengan kawanmu. Untuk apa membahagiakan pasangan bila kamu saja merasa terbebani?
  2. Jika aku sebagai Bunga yang wanita karir, aku lebih memilih untuk membeli segala ingin dan kebutuhanku seorang diri, dengan hasilku sendiri. Tidak meminta pada siapa pun, termasuk pasanganku. Ketika kamu sebagai wanita bisa membeli dan memenuhi kebutuhanmu seorang diri, kenapa harus meminta?

Mungkin, bila Ari dengan terbuka mengutarakan alasan mengenai ia yang merasa keberatan, Bunga bisa sedikit lebih mengerti. Atau mungkin, Ari hanya ingin terlihat "mampu" dan dapat mencukupi segala keinginan Bunga. Namun menurutku, segala sesuatu tetap harus dibicarakan dan didiskusikan. 

Pria ataupun wanita itu sama saja menurutku. Tidak bisa disamakan dengan "pria yang selalu cuek" atau "wanita tidak mudah dimengerti". Ada beberapa pria yang sulit dimengerti dan beberapa wanita yang cuek. Sama seperti suku. Tidak semua orang bersuku A itu pelit, tidak semua orang dari suku B itu pemarah. Semua orang memiliki watak dan sifat yang berbeda, tergantung bagaimana orangnya, kan? Watak dan sifat tidak dapat dibedakan berdasarkan suku, gender, atau hal-hal sejenisnya.

Kesimpulannya; segala hal masalah yang kamu dan pasanganmu hadapi, solusi terbaiknya adalah komunikasi yang baik dan keterbukaan. Saling mengerti tidak bisa diwujudkan bila komunikasinya saja tidak baik. Jadi, mari membangun komunikasi yang baik. Jangan menebak-nebak atau cepat berasumsi.

Jika ada yang ingin didiskusikan, monggo komentar di bawah post ini, ya :)

Wassalamu'alaikum.

With love,
Trirati
Share:

Rabu, 07 Juni 2017

Menjadi Diri Sendiri + Bersyukur = Bahagia!

Apa sih definisi bahagia menurut kalian?  Kalau dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Menurutku, bahagia adalah suatu hal di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Tidak peduli orang lain berkata apa, atau membutuhkan penilaian orang lain. Karena ketika orang lain menilai, mereka akan menilai sesuai pendapat dan apa yang mereka mau, bukan apa yang kita inginkan. Asalkan tidak melanggar norma negara dan agama, serta tidak merugikan atau membuat orang lain bersedih, sah-sah saja dilakukan untuk menciptakan bahagia.

"Kamu egois kalau tak mau dengar penilaian orang lain"
Jelas tidak. Karena menurutku, saran dan penilaian adalah dua hal yang berbeda. Aku sangat menerima saran dari orang lain. Karena jika tak ada yang menegur, aku pun tak akan tahu apa yang ku lakukan salah atau tidak. Tetapi, jika apa yang ku lakukan dinilai, aku sungguh tidak peduli. Ini hidupku, bukan? Aku nahkoda di perahuku sendiri. Aku yang paling memahami apa yang akan membuatku bahagia. Kalau kamu mau menuntutku menjadi apa yang kamu mau, maaf, aku tidak bisa :)

Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Untuk apa? Untuk kita nikmati, untuk kita rasakan. Bukan untuk dibanggakan ataupun dinilai orang lain. Misalnya:
  • Jika mennurutmu feeds instagrammu berisi semua foto selfie-mu dapat membuatmu bahagia, ya lakukan saja. Jika ada yang mencibir "foto instagrammu kok foto selfie semua?", acuhkan saja. Kalau mereka tak suka, kamu bisa bilang "Sila klik tombol "following" yang ada di profil instagramku. Agar timeline-mu tidak penuh dengan wajahku :)" 
  • Jika kamu lebih suka berdialog secara langsung dari pada berdialog maya. Lakukan.
  • Jika kamu lebih menyukai musik bergenre rock yang keras dan menurut orang lain "sulit didengarkan", ya lanjutkan saja.
  • Jika kamu wanita dan lebih suka pakai kaus kebesaran sedangkan wanita lain pakai baju ketat, tak usah pedulikan. 
Intinya, bahagia cukup dengan menjadi diri sendiri. Melakukan apa yang ingin dilakukan, mendengarkan apa yang ingin didengarkan, melihat apa yang ingin dilihat, dan hal-hal lain, lakukan sesuai apa yang kamu mau. Jangan sibuk menjadi kekinian. Biar mereka saja yang sama karena terlihat kekinian, kalau kamu tidak suka, ya jangan diikuti. Bahagia menjadi berbeda.

"Cara terkeren untuk menjadi keren adalah
dengan tidak berpikir untuk menjadi keren"
- Fiersa Besari

Bahagia juga aku artikan dengan bersyukur. Bersyukur akan apa yang telah kamu miliki, bersyukur akan orang-orang yang dihadirkan Tuhan di sekelilingmu, bersyukur dengan nikmat yang Tuhan beri tanpa jeda. Jangan mudah mengeluh, Yaa, sesekali boleh lah, asalkan tidak setiap saat.

Coba kamu bayangkan. Ketika kamu memberi seseorang sebuah buku karena berpikir bahwa buku adalah benda yang bermanfaat sebab memiliki banyak hal untuk dipelajari. Tetapi, seseorang itu berkata "Yah, kok buku sih? Aku kan maunya sepatu baru." Bagaimana perasaanmu? Pasti kamu berpikir "Ih, gak tahu terima kasih banget, sih", atau "Kok dia gak bersyukur sih?". Iya tidak? 

Lalu, bagaimana perasaan Tuhanmu ketika kamu terus-menerus mengeluh? Bukankah segala keadaanmu hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untukmu? Maka, mari beryukur. Agar hatimu tidak gelisah melulu. Percayalah bahwa apa yang kamu miliki saat ini adalah porsi yang tepat untukmu.

Jadi, kalau mau bahagia cukup menjadi diri sendiri dan selalu bersyukur. Insya Allah, kamu dan orang-orang di sekelilingmu akan bahagia. Kenapa orang di sekeliling ikut bahagia? Karena, jika kamu benar bahagia, aura bahagiamu akan tersebar pula ke sekelilingmu :)

Itulah bahagia versiku. Bagaimana dengan versimu? Sila tulis di kolom komentar ^^


With love,
Trirati :)
Share:

Senin, 10 April 2017

Hadir, Hilang Lalu Ikhlas

Hai Kamu...
Bagaimana kabarmu? Ku lihat kau baik-baik saja. Bukan aku sok tahu. Tetapi senyum dan gelak tawamu yang memberitahuku. Senang rasanya mengetahui bahwa kau telah bahagia, sekalipun tidak denganku. Sekalipun hanya dapat menikmatinya dari jauh.

Sekalipun kita telah terpaut jauh, tak seerat dulu, aku hanya ingin kau tahu beberapa hal:

  1. Terima kasih telah sempat hadir. Telah sempat menjadi sandaran di saat lelah. Telah sempat menjadi pelangi pengusir hujan. Telah sempat menjadi penguat di saat semua terasa berat. Telah sempat mampu mengusir segala duka menjadi tawa. Walau dalam kurun waktu yang singkat, hadirmu tetap ku syukuri.
  2. Terima kasih karena telah menghilang begitu saja. Walau aku masih dapat melihat dan menikmati senyum serta bahagiamu dari kejauhan -tidak lagi dilakukan bersama-sama-. Asal kau tahu saja, hilangmu adalah hal yang tak sempat aku bayangkan. Hilangmu adalah hal yang tak pernah kuinginkan. Hilangmu adalah hal paling buruk dari segala kehilangan yang pernah aku rasakan.
  3. Terima kasih karena telah mengajari arti keikhlasan. Aku memang harus ikhlas, bukan? Membiarkan tawamu membaur dengan tawanya. Membiarkan senyum luluhmu merekah ketika melihatnya. Membiarkan jarakmu yang kian melekat dengannya. Membiarkan kau semakin jauh dari jangkauan mataku. 

Berbahagialan selalu, maka hatiku pun akan baik-baik saja :)

Salam,
Aku.
Share:

Minggu, 02 April 2017

Aku Bukan Rumah

Selama ini, aku mengganggap bahwa aku adalah rumahmu. Ya, di mana aku adalah tempat yang akan selalu kau tuju ketika kau letih, ketika kau bosan bermain di luar, ketika kau ingin beristirahat. Namun nyatanya, aku belum sepenuhnya menjadi rumahmu.

Mungkin, kini kau hanya tinggal di sebuah rumah yang kau sewa. Entah kapan masa sewamu itu habis. Atau entah kau akan berniat membeli rumah ini atau tidak. Kau bebas keluar-masuk tanpa perlu lagi meminta izin. Namun jika mungkin suatu saat nanti kau merasa jenuh dengan rumah sewamu ini, dengan mudahnya kau dapat pergi. Berpindah untuk menyewa —atau bahkan kau akan membeli— rumah yang lain.

Lalu bagaimana dengan aku? Tentu tak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa menahanmu untuk tidak pergi. Aku tidak ingin kau tetap tinggal namun setiap harinya menunjukan wajah masam. Bagaimana aku bisa tetap bertahan tanpa melihat senyummu? Tidak. Aku tidak akan mampu.

Yang perlu kau tahu, aku tak pernah merasa bosan ataupun jenuh. Sekalipun setiap waktu hanya dapat melihatmu dan hanya kamu yang tetap tinggal. Tak tahu kah justru itu yang membahagiakaku? Aku telah menganggapmu sebagai pemilik rumah ini, bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya. Hingga setiap kayu dan bangunannya rentan dimakan waktu. Hingga aku runtuh dan tak lagi dapat menjadi rumahmu.

Sayang, jika bosan dan jenuhmu timbul dengan keadaan aku —sebagai rumahmu—, jangan terburu-buru untuk pergi. Mari menata beberapa barang di dalamnya, atau mencat ulang setiap sisi bangunannya. Mari ciptakan suasana baru. Sadarilah bahwa mencari rumah yang nyaman adalah hal yang sulit. Jika kau pergi, lalu menemukan rumah baru yang ternyata tak senyaman dengan rumahmu yang lama, hingga membuat kau kembali dan nyatanya rumahmu ini telah ditempati orang lain, kau bisa apa? Tak akan menyesal kah?

Jadi, ku mohon untuk tetap tinggal. Aku tak ingin ditempati oleh orang lain yang mungkin tak sebaik dirimu. Dan ku mohon, berhentilah memperpanjang masa sewaku. Aku adalah rumah bertipe 'penakut'. Karena sungguh aku terlalu takut untuk ditinggalkan. Aku terlalu takut untuk digantikan. Dan aku terlalu takut untuk kau lupakan.

Jangan pergi.
Jadikan aku sebagai rumah permanenmu.
Janji?


Salam,
Trirati
Share:

Kamis, 16 Maret 2017

Untukmu Yang Hatinya Tengah Terluka....

Hai Kamu...

Bagaimana kabar hatimu saat ini? Sudah membaik kah? Atau lukanya masih menganga?

Sudah. Jangan terlalu larut dalam luka yang mungkin tak sengaja dia goreskan pada hatimu. Iya. Aku memahami. Bagaimana mungkin seseorang dapat dengan mudahnya berkata "tidak sengaja" perihal hati? Tetapi, harus kamu akui, terkadang kita disakiti oleh harapan kita sendiri, oleh ekspektasi yang tentu tak selamanya sesuai dengan realitas yang ada.

Coba kamu ingat-ingat lagi. Apa memang betul dia yang terus-menerus memberikan harapan untukmu? Atau kamu yang menaruh harapan terlalu besar padanya? Apa memang benar dia hanya berlaku baik padamu? Atau dia memang sosok orang yang baik pada semua orang? Apa memang iya senyum manisnya hanya tertuju padamu? Atau dia yang memang murah senyum pada siapa saja? Apa betul dia hanya sibuk chatting hingga larut malam hanya denganmu? Atau memang banyak orang yang ditemaninya hingga rasa kantuknya tiba? Apa memang benar dia menceritakan banyak hal hanya denganmu? Atau memang dia sosok orang yang terbuka? Apa iya diam-diam dia sering mencuri tatap denganmu? Atau hanya kebetulan dan kamu yang salah artikan?

Jika memang pertanyaan di atas betul, benar dan iya. Mungkin dia memiliki alasan lain sebelum memilih untuk pergi. Mungkin ada sesuatu darimu yang melukai hatinya. Atau mungkin ada sikapmu yang menyinggung perasaannya. Atau ada "atau-atau" yang lainnya, yang hanya dia yang tahu dan rasa.

Jangan mudah mendeklarasikan bahwa kamu adalah pihak yang paling tersakiti. Mungkin dia juga merasakan sakit yang sama, atau bahkan lebih. Perbedaannya, dia tidak menunjukan padamu atau orang lain. Mungkin menurutnya, apapun yang dia rasa bukan konsumsi publik dan orang lain tak perlu tahu.

Jadi, tutup buku lukamu. Bukalah lembar baru, yang bersih tanpa adanya luka atau noda. Yang akan kamu isi dengan senyum dan tawa. Senyum! Kamu jelek kalau cemberut :P

Percayalah, Dia telah menyiapkan pengganti dia-mu dengan dia yang baru, yang lebih baik tentunya. Belajarlah dari segala hal yang telah kamu alami. Termasuk soal hati. Sakit hati bukan hal yang buruk, kok :)

Salam,
Trirati
Share:

Selasa, 14 Maret 2017

Happy 23rd Birthday, Trirati!

- 08 Maret 2017 -


Sejak beberapa hari sebelum hari ini, aku tidak mengharapkan apapun. Lain dengan tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak mengharapkan kejutan, tidak mengharapkan ucapan, apalagi mengharapkan hadiah. Tidak. Sudah tidak lagi. Rasanya sudah bukan waktunya mengharapkan sesuatu di hari ulang tahun.

Aku lebih memikirkan tentang diriku sendiri. Ya, evaluasi diri lebih tepatnya. Memikirkan apa saja yang telah aku lakukan di 22 tahun belakangan. Memikirkan bagaimana "aku" di hari-hari ke depan. Memikirkan apa saja yang harus aku capai. Dan memikirkan telah berapa keburukan yang sudah ku perbaiki. 

Dan ternyata, aku masih sangat jauh dari sisi "Ofi yang Baik". Masih sering kali bermalas-malasan, tidak menjaga kesehatan, berkata kasar, dan masih sangat sering mengabaikan kewajiban. Seperti titik-titik hitam yang memenuhi kertas putih. Terlalu banyak hal buruk yang ada di dalam diri ini. Mungkin, jika teman-temanku memandang aku adalah orang yang baik, itu karena salah satu kemahabaikan-Nya yang menutupi segala aib dan keburukanku. 

Pertama

Terima kasihku selalu mengalir untuk-Mu. Karena Kau selalu memberikan aku lingkungan dengan orang-orang yang baik, yang bisa menerima aku sebagaimana aku, yang dengan tulusnya selalu menetap. Dan karena Kau, aku selalu diberikan keadaan baik. Ya, keadaan yang selalu baik. Maaf jika aku masih amat sering mengeluh. Aku tahu, segala yang Kau beri adalah hal yang terbaik. Terima kasih karena selalu memberikan aku kesadaran bahwa aku dapat belajar sesuatu dari segala hal yang Kau beri.

Malu rasanya. Aku terlalu sering ingkar, namun Engkau seakan mengabaikan. Terima kasih atas segala pembelajaran yang Kau beri selama 22 tahun ini. Semoga aku dapat menjadi Ofi yang lebih baik lagi. Yang lebih dewasa dalam menyikapi suatu hal, yang tidak mengecewakan, tidak menyakiti, dan tidak membawa dampak buruk untuk orang lain. Aamiin....

Kedua

Terima kasih, Ma. Entah betapa beruntungnya aku lahir dari rahim seorang ibu seperti Mama. Terima kasih karena selalu menuntun agar menjadi wanita dewasa yang harus selalu kuat. Terima kasih atas segala pengertian tentang apa itu kasih sayang. Terima kasih karena berusaha untuk selalu ada. Duh, berjuta ucapan terima kasih rasanya tak akan cukup untuk berterimakasih padamu, Ma.

Walaupun tahun ini aku tidak dapat pelukan dan ciuman hangat dari Mama, tapi doa yang Mama selalu panjatkan ke langit-Nya serta kabar bahwa Mama dalam keadaan baik-baik saja rasanya sudah cukup untuk saat ini.

Tenang, Ma, anakmu ini -yang-selalu-kau-sebut-bayi- sedang dalam keadaan baik. Berterimakasihlah pada-Nya. Karena Dia selalu mengirim "utusan" untuk selalu membahagiakan, mengingatkan dan meluruskan ketika langkahku dalam arah yang salah.

Kapan kita bertemu, Ma? Rindu untukmu ku simpan dengan amat rapi di sudut hati. Rasanya sudah cukup sesak. Hehehe...

Ketiga

Terima kasih, Yah. Kasihmu memang tak terlihat. Seperti cahaya matahari yang mengintip dari sela-sela ventilasi rumah kita. Cahayanya terlihat sangat kecil. Namun sesungguhnya, cahaya itu yang menyinari dan selalu menghidupi. Maaf jika banyak sekali perbuatan yang tidak berkenan di hatimu. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik untukmu.

Keempat

Terima kasih, Masil. Terima kasih karena selalu ada. Terima kasih untuk segala kesabaran, pengertian, kepedulian, kekhawatiran dan segala cinta kasih yang kau selalu berikan. Wajar saja bila banyak wanita yang inginkan posisiku. Kamu terlalu baik. Bagaimana aku tidak beruntung karena menjadi wanita pilihanmu? :P

Selamat makin menua, Trirati a.k.a Ofi a.k.a Tiar. Semoga waktu yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki diri ya, Fi. Ingat, waktu duniamu semakin sempit. Jangan terlalu fokus "mendunia". Ingatlah bahwa mungkin amalan baikmu hanya sebaris, sedang dosamu telah berbuku-buku. Mari menjadi Ofi yang lebih baik, menjadi Ofi yang banyak memberi manfaat :)


Masil : "Maaf ya, donutnya berantakan :("

Anyway, terima kasih untuk kalian, teman-teman yang menyempatkan waktu untuk memberi kejutan, memanjatkan doa (yang secara diucapkan padaku atau secara diam-diam hingga hanya kamu dan Tuhan yang tahu). Semoga Tuhan dengan Kemahabaikan-Nya memberikan keberkahan di hidup kalian :)


Share:

Jumat, 03 Februari 2017

Setiaku Satu

Setia ibarat sayap. Ia tak dapat terwujudkan bila hanya satu sisi. Layaknya sayap yang terbang menuju suatu tempat. Kau tak akan pernah tiba pada tujuanmu, bila salah satu sayapmu "sakit".

Seperti halnya kita.
Aku mencoba membawamu menuju masa dimana hanya senyum yang menghiasi hari-hari kita hingga menua bersama. Namun, setiamu sakit. Hingga apa yang menjadi tujuan akhirku tak dapat ku sentuh, tak dapat ku gapai, tak dapat ku tuju dengan sempurna.

Semua karenamu.
Kamu yang tiba-tiba saja menjadi abu. Tak lagi berwarna seperti apa yang ku tahu. Kamu yang tiba-tiba menjadi ragu. Tak lagi bersemangat seperti dulu. Kamu yang akhirnya menghilang bak debu. Tak bersua, tak berkabar. 

Dan aku yang setia pada setiaku.
Yang masih di sini menunggumu. Tetap pada setiaku. Aku tetap ingin menjadi suatu tempat dimana kamu akan berlabuh. Dimana kamu tak berniat untuk berlayar lagi. Dimana kamu akan menetap. Entah alam akan membawamu kembali atau tidak. Yang ku tahu, setia itu satu. Dan setiaku adalah kamu.


- Trirati -
Share:

Minggu, 11 September 2016

Ofilham's Trip - Gunung Padang, Cianjur

Assalamu'alaikuuumm~~

Wah, udah lama banget rasanya gak blogging :')
Ofi sekarang lagi sibuk banget kerja. Berangkat pagi, pulang tengah malam. Hampir setiap hari lembuuurrrr teruuusssss! Jadi, kalau weekend rasanya mager banget! Maunya tidur aja di rumah-_-

Dan mumpung lagi long weekend, Ofi mau cerita pengalaman yang baru beberapa hari lalu Ofi alami. Bukan hal yang tidak disengaja, sih. Memang hal yang sudah di rencanakan, hihi :p

Sejak kurang-lebih satu bulan lalu, Ofi dan Masil memang berniat ambil cuti kerja untuk touring bareng. Yap! Kali ini kami rencanakan hanya berdua saja. Kenapa? Yah, banyak alasannya. Termasuk mau bebas. Eits, jangan salah paham dulu. Maksud dari kata "bebas" di sini adalah; bebas pulang jam berapa, bebas mau makan apa, bebas mau kemana, dan bebas sesuka kami, gak harus memikirkan 'partner' nge-trip yang keberatan atau enggak, hehe.

Awalnya, kami hanya berencana ke Taman Bunga Nusantara aja. Tapi, kalau dipikir-pikir, kok mau ke Puncak aja sampe ambil cuti kerja? Apa jaraknya gak kedeketan? Dan Masil berpikir kalau Taman Bunga Nusantara itu sudah cukup mainstream untuk dikunjungi. Padahal, kalau boleh jujur, Ofi pengen banget ke Taman Bunga. Karena Ofi suka bunga. Spot untuk foto pun lumayan banyak. Tapiiiiii, kalau dipikir-pikir, bener juga kata Masil, kalau Taman Bunga udah cukup mainstream. Dan kami pun sempat galau beberapa hari menjelang hari H (ambigu banget, hari H haha-_-).

Dan kebetulan, ada teman Masil yang merekomendasikan Gunung Padang, Cianjur. Setelah kami research, Masil udah mulai tertarik untuk ke Gunung Padang aja. Tapi, Ofi masih berat untuk bilang "setuju". Karena, seperti apa yang tadi Ofi bilang, Ofi pengen banget ke Taman Bunga, karena Ofi suka bunga, huhu. Dan kalau Ofi lihat gambar-gambar yang diperlihatkan sama Mbah Gugel, Ofi gak bisa lihat spot foto di sana, huhu. Galau deh berhari-hari-_-

Sampai akhirnya, Ofi dan Masil pun setuju ke Gunung Padang aja. Kenapa? Alasan paling kuat adalah; tempat itu belum terlalu mainstream untuk dikunjungi. Lagipula, Ofi kan berniat mau refreshing, dan Ofi pikir, kemana pun gapapa deh. Asal sama Masil dan tempat tujuan kita adalah tempat yang sejuk dan hijau. Biar bisa benar-benar fresh.

-- H-2 --

Masil belum minta izin ke Mama. Dan, sebetulnya Ofi agak ragu akan dapat izin dari Mama. Karena, Mama gak suka Ofi nge-trip naik motor sekali pun itu sama Masil. Apalagi, melihat kesibukan Ofi di dunia kerja sekarang yang cukup banyak menyita waktu. Malah kadang Ofi kalau lembur dan pulang larut malam, Ofi sering berpikir untuk menginap di kantor aja. Percuma pulang, besok pagi ke sini lagi. Dan rasanya rumah hanya dijadikan "pos" untuk tidur beberapa jam saja.

Dan benar saja, H-1 Masil minta izin melalui SMS (karena Masil udah coba datang ke rumah, tapi kebetulan Mama sedang pergi selama 2 hari), Mama cuma balas "Naik apa?", lalu dibalas "Naik motor, Bu" sama Masil. Habis itu, gak ada balasan lagi. HUUAAAA!!!!! Perasaan udah campur-aduk gak karuan-_-

Ofi tau, sih. Mama ragu kasih izin karena lihat pekerjaan Ofi yang cukup menyita waktu. Dan Mama pasti khawatir dengan kesehatan Ofi. Tapi, Ofi tetap usaha agar dapat izin dari Mama. Ofi jelasin dan janji kalau gak akan sakit. Sampai waktu di kantor, Ofi sempat SMS Mama dan bilang "Aku cuma mau liburan, Ma. Pusing :( Boleh ya, please". Sampai di kantor mau nangis karena ngebayangin rencana liburan akan kandas gitu aja, hiks :(

Sampai akhirnya, Masil whatsapp Ofi. Masil mengirimkan screenshoot SMS dari Mama yang isinya;
"Ibu izinin, Ham. Ibu minta, jaga Ofi terutama kesehatannya. Buat dia senang ya..."
Huaaaaa, seneng bangets :')
Yeay! Jadi liburan :3

Oiya, Masil cuti tanggal 5, 6 dan 7 September. Dan Ofi cuti tanggal 6 dan 7 September. Tanggal 5 September itu hari Senin, dan Ofi gak akan mungkin cuti hari Senin. Bukan, bukan perkara gak di acc sama atasan. Tapi, kerjaan Ofi selalu menumpuk di hari Senin. Jadi, gak tega aja sama partner kerja yang lain.

-- 05 September 2016 --

Senin yang membahagiakan!
Ofi tau sih, hari ini akan bertemu dengan kerjaan yang setumpuk. Tapi seneng karena udah ngebayangin besok liburan :3

Hari ini, udah niat banget dari pagi kalau Ofi gak boleh pulang telat. Untuk hari ini ajaa, gak mau lembur. Gak mau pulang malem. Karena udah janji sama Masil buat berangkat ba'da subuh biar sampai sana gak terlalu siang. Dari pagi, Masil pun udah chat agar hari ini jangan pulang larut. Jadi, udah diniatin hari ini jam 6 sore teeet harus udah tutup laptop! Ntaps!

Yang namanya ekspektasi pasti selalu bertolak belakang dengan realita. Ofi baru keluar kantor jam 21.00 WIB-_- Dan sampai rumah jam 22.30 WIB. Di jalan juga sempat teleponan sama Masil dan dia cuma ketawa-_-

Sampai rumah, bukannya siap-siap dan istirahat buat besok. Malah lanjut teleponan sama Masil sampai lewat jam 12 malam. Alhasil, jam 05.14 WIB baru bangun dan udah gedebak-gedebuk kaya apa tau-_-

-- 06 September 2016 --

Sebelum berangkat, cekrek dulu

Buah dari ke-random-an kita semalam, jam 08.00 WIB baru berangkat dari rumah Ofi. Ngaretnya 3 jam-___-

Di perjalanan, seperti trip sebelumnya, kami pakai intercomm agar gak teriak-teriak waktu Ofi lagi ngoceh. Maklumi lah yaa, kan Ofi hobi ngomong :') Kami membicarakan banyak hal. Entahlah ya, kalau sama Masil tuh gak pernah kehabisan obrolan. Dibilang jarang ketemu juga enggak, tapi, obrolannya gak pernah abis, haha.

Sekitar pukul 10.30 WIB, kami sudah sampai di wilayah Puncak. Dan kami berniat mampir ke Puncak Pass. Sekadar meluruskan kaki dan punggung, hehe. Udaranya juga buat sejuk hati sama pikiran. Dan entah, kami gak pernah bosan dengan suasana Puncak. Kabutnya, sejuknya, deretan gunung hingga pohon teh yang berbaris, seakan tak bosan dipandang mata. Mungkin karena di BSD dan Jakarta gak ada yang kaya gini ya :p

Masil pakai intercomm, biar kaya pilot katanya-_-

*uhuk* :3
Kami tidak terlalu lama berada di Puncak. Hanya sekitar 15 menit saja. Mengingat perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar 2 jam lagi, maka kami lanjutkan perjalanan kami.

Jarak dari Puncak ke Kabupaten Cianjur tidak membutuhkan waktu lama. 1 jam saja ku telah bisa, cintai kamu kamu kamu kami sudah tiba di Kabupaten Cianjur. Dan ternyata, Cianjur panas bangeeeeetttt!!-___- Beda banget sama Puncak. Tapi gapapa lah ya, semoga sampai Gunung Padang nanti, perjuangan panas-panasan bisa terbayarkan. Lalu, bermodal Google Maps, kami melanjutkan sisa perjalanan yang masih membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di Gunung Padang.

Dari Kabupaten Cianjur, kami masuk di jalan yang mungkin hanya cukup dimasuki 2 mobil saja, lumayan sempit. Gak jauh beda dengan track ke Bukit Moko. Bedanya, kali ini jalannya kurang terawat. Bopeng-bopeng gitu(?)-_- 

Tapi, walaupun kondisi jalan yang kurang menyenangkan hati, namun pemandangan sekitar cukup memanjakan mata. Sudah mulai jelas terlihat kebun teh, lereng gunung, sungai kecil dan beberapa rumah penduduk. 

Oiya, buat teman-teman yang berniat ke sini, khususnya untuk pengemudi mobil atau motor, hati-hati ya! Walaupun pemandangan sekitar amat menarik, harus tetap konsentrasi dan fokus pada jalanan di depan. Karena bukan hanya kondisi jalan yang kurang bagus, namun kanan-kiri juga jurang yang gak ada pembatasnya. Jalannya pun berliku-liku seperti kehidupan(?). Kemarin pun sewaktu kami ke sini, ada satu lokasi yang sepertinya bekas tanah longsor gitu. Jadi, sebelum ke sini, harus dikondisikan juga dengan cuaca yang bagus.

Kebun teh :3
Ofi cek Google Maps, dan kemungkinan sekitar 14 menit lagi sampai Gunung Padang dari tempat kami foto kebun teh di atas. Udara udah mulai sejuk, udah gak terlalu panas menyengat kulit, dan kondisi perut yang mulai bergejolak minta diisi-_-

14 menit berlalu sangat cepat, dengan pemandangan deretan kebuh teh yang amat menyejukkan. Daaaaan, sampai di Gunung Padang :3

Gerbang masuk Gunung Padang
Kami tiba sekitar pukul 13.00 WIB. Terlihat di kanan dan kiri ada beberapa warung dan rumah makan yang tutup. Mungkin karena weekdays kali ya? Mungkin kalau weekend warung makan banyak yang buka karena lebih banyak pengunjung. 

Karena lapar, kami pun mampir di salah satu rumah makan yang menjual Mie Ayam dan kebetulan tetap buka di hari biasa seperti ini. Selesai makan, kami mencari musholah untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu.

For your information, untuk masuk ke wilayah Gunung Padang, tidak perlu merogoh dompet dalam-dalam, kok. Cukup bayar parkir Rp 5000,- dan tiket masuk Rp 5.000,- per-Orang. Ekonomis banget kan >,<

Setelah sholat, kami ke loket untuk isi data dan beli tiket masuk. Dan setelah masuk, kami disuguhi 2 pilihan untuk naik ke puncak, yaitu tangga 1 dengan jarak 175 meter tapi sangat terjal dan menanjak, atau tangga 2 dengan jarak 300 meter dengan jumlah anak tangga yang lebih banyak. Dan kami pun memilih tangga 2, karena kami berpikir "jalan santai aja. Nikmati perjalanan, pelan-pelan, yang penting sampai puncak".

Tapi, lagi-lagi diluar dugaan. Naik ke puncak dengan memilih tangga kedua agar tidak terlalu lelah pun rasanya sia-sia. Baru beberapa anak tangga saja, kami sudah kelelahan. Emang dasarnya gak pernah olahraga-_-

Kondisi tangga untuk tiba ke Puncak

Pemandangan bawah dari tangga saat perjalanan ke Puncak

Tangga menurun

Buat naik ke atas aja perjuangannya subhanallah sekali :')
Tapiiiii, sampai atas kami gak menyesal sedikit pun. Rasa lelah dan letih sejak awal perjalanan seolah terbayarkan. Udaranya sejuk. Walaupun langit terik, tapi udara di sana cukup sejuk :3

Gunung Padang terdiri dari 5 Teras. Ofi belum tau banyak tentang daerah ini. Tapi, menurut sumber-sumber yang Masil dapatkan, tempat ini masih misterius. Entah batu-batuan tersebut terbentuk secara alami, atau ada campur tangan Nenek-Moyang terdahulu. Kalau diperhatikan, Teras-teras ini berbentuk seperti Piramida. Dan konon, di bawahnya ada sebuah ruangan yang masih jadi misteri. Saat ini, Gunung Padang masih dalam tahap penelitian sejarahnya. 

Dan kami hanya berkeliling di sekitar Teras I dan II saja. Jadi, Ofi gak dapat foto semua terasnya. 

Teras I Gunung Padang, Cianjur
Kalau teman-teman perhatikan foto di atas, beberapa susunan batu seperti bangunan runtuh dari beberapa ruangan. Foto di atas Ofi ambil dari Teras II yang posisinya lebih tinggi.

Tumpukan batunya seperti tangga
Dan foto di atas, tumpukan bebatuannya persis seperti tangga. 

Jika teman-teman ada yang berniat datang ke sini, apalagi tertarik dengan sejarahnya, jangan buru-buru pulang. Ofi kurang paham apakah ini suatu kegiatan rutin dari penduduk setempat atau tidak, tapi, sekitar pukul 17.00 WIB, ada penduduk yang naik dan menceritakan perkiraan sejarahnya.

Ofi gak terlalu dengar karena jaraknya yang tidak terlalu dekat. Yang jelas, sejarah dari Gunung Padang ini masih misterius. Belum terungkap pasti. 

Kami turun sekitar pukul 17.40 WIB. Karena mengingat perjalanan menuju Kabupaten Cianjur yang tidak ada penerangan, kami takut pulang terlalu malam. Apalagi kondisi jalan yang kurang bagus dan kanan-kiri jurang tanpa pembatas.

Di perjalanan turun, Masil dan Ofi sempat berbincang tentang lokasi di atas sambil menikmati jalan berdua menuruni tangga :p

Kesimpulan dari obrolan kami adalah;
Awalnya, kami sempat dibingungkan dengan bangunan di atas. Siapa yang membangun lokasi yang menurut kami cukup cerdas pada masanya? Dimana ilmu pembangunan dirasa masih belum secanggih saat ini. Tapi, satu hal yang kami yakini; itulah kuasa Tuhan. Ia yang menciptakan manusia dengan akal. Ia yang mampu menggerakan pemikiran dan hati setiap umat-Nya. Bukankah setiap hal tak luput dari kuasa-Nya?

-----------


Perjalanan pulang membutuhkan tenaga extra-_- Mungkin karena udah capek dari pagi, ditambah kurang tidur juga, jadi rasanya remuk, hehe. Tapi seneng >,<

Singkat cerita, sesampainya di Kota Bogor, kami memang ada rencana untuk makan di suatu tempat. Tapiiiii, berhubung hujan deras tak kunjung reda padahal lokasinya tinggal 3 menit lagi, akhirnnya kita neduh sambil makan malam di pecel ayam -_- Gapapa sih, dari pada telat makan + kehujanan = sakit, kan?

Sebenernya, Masil bawa jas hujan 2. Tapi memang sengaja gak dipake dulu karena ribet. Nanti sampai tempat makan dilepas lagi, abis itu dipake lagi-_-

Selesai makan, kami pulang dengan menggunakan jas hujan lengkap. Khawatir hujannya datang lagi, jadi kami gak perlu menepi untuk sekadar pakai jas hujan. Dan benar saja, sampai Depok hujan kembali mengiringi perjalanan pulang kami-_-

Singkat cerita, sampai di rumah pukul 01.00 WIB. Yap! Pagi. Dan rasanya pegal tak terkira. Masil juga matanya udah merah karena ngantuk. Ofi mah sampe rumah seger, soalnya di jalan tidur dari Bogor sampe Pamulang. Kebow >,<

Dan kesimpulan dari trip kami kali ini, Ofi gak nyesal sedikit pun ke tempat ini. Yang awalnya cuma berpikir kalau gak akan dapat spot foto. Tapi nyatanya, di sini gak cuma dapat kenangan berbentuk foto, melainkan ilmu, ketenangan jiwa dan bahkan Ofi jadi semakin yakin atas Kuasa Tuhan. 

"Fabbi-ayyi alaa-i rabbikuma tukaththiban?"
Lalu, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
- Q.S Ar Rahman -

Sekian yaaaps, Manteman.
Kalau ada yang mau tanya-tanya soal lokasi di sana, monggo line aja di; Ofitritiaraaw.
Kalau mau lihat foto-foto lainnya juga bisa ke instagram; @Ofitritiaraaw. Tapi uploadnya bertahap ya, karena Ofi gak mau spam kalau langsung upload semua, hehe.

Oiya, Happy Long Weekend!
Dan sampai bertemu di Ofilham's Trip selanjutnya! :D

Dan buat kamu, Mas. Thanks for made my day! Paling banget tau apa maunya Ofi. Terima kasih untuk selalu ada dan selalu mengerti. Words can't describe how much I love you, My Choco :)

Bonus:
- I love you, Love -


With love,
Ofilham ❤
Share:

Minggu, 10 Juli 2016

Catatan Untuk Aku




Hai, Aku!

Banyak yang tak mereka tahu tentang apa yang tersembunyi dalam nurani terdalammu. Amarah, benci, gundah dan segala lelah lainnya yang seakan tak ada sebab tertutup tawa.

Sudahlah, hilangkan benci yang tak sudah-sudah itu. Ingatlah bahwa catatan amal baikmu mungkin hanya beberapa saja, tak sampai berlembar-lembar, apalagi hingga berbuku-buku. Dalam darahmu, mengalir darahnya. Ya, dia yang kau benci. Itu tak akan terhapus sampai kapanpun jua. Lalu, sampai kapan bencimu padanya akan bersarang? Tak sayangkah pada sebaris amalan baikmu yang akan terus berkurang?

Kini, hadir sosok lain yang mungkin lebih terlihat peduli padamu. Ia yang tak ada ikatan darah apapun. Ia yang selalu mengkhawatirkan masa depanmu. Ia yang tak pernah henti berdoa untukmu. Namun, sebaik apapun ia, ia tak dapat mengganti sosok sebelumnya. Tak akan pernah.

Aku, ikhlaskan apa yang telah kau lewati. Jangan kau sesali walau hanya sekali. Ingatlah bahwa ini adalah salah satu cara-Nya agar kau lebih baik lagi. Agar kedepannya, kau dapat belajar dari apa yang kau alami saat ini. Siapapun yang ada, bersyukurlah bahwa kau masih dalam kasih dan sayang-Nya. Tenanglah, lelahmu tak akan sia. Segalanya akan indah pada waktu yang tepat. Tuhan Maha Baik, bukan? Lihatlah sejauh hidupmu berjalan, tulisan-Nya sangatlah indah. Tak hanya ada suka yang menyertai, namun duka pun ikut serta menghiasi.

Bersabar dan bersyukurlah, maka kau akan berbahagia.

Salam,
Aku.
Share:

Kamis, 16 Juni 2016

Waktu Indonesia Bagian Rindu


 







"Berbicara tentang waktu, identik dengan rindu
Berbicara tentang rindu, identik dengan kamu

Ya, kamu..
Sang pelipur lara, dari segala gundahku
Sang penawar luka, dari segala dukaku
Sang pencipta tawa, dari segala lelahku

Ya, kamu..
Yang senyumnya tak lagi dapat ku nikmati setiap harinya
Yang saat ini rinduku terhalang jarak puluhan kilo jauhnya
Yang tawanya semakin lama, semakin sayup terdengar
Yang genggaman tangannya, semakin hari semakin samar lembutnya

Jika boleh aku berandai,
Aku ingin melepas rindu dalam pelukan

Jika boleh aku berandai,
Aku ingin melihatmu di tiap pagi menjelang

Ah, andaikan bisa
Ah, andaikan bukan sekadar berandai

Entah kau rasakan yang sama atau tidak
Namun aku lelah berkelut dengan waktu
Aku lelah bermusuhan dengan waktu
Waktu adalah pemeran utama dari tumpukan rinduku
Rindu yang kian hari kian berbuku-buku

Obat rindu adalah temu. 
Jika tak bertemu, berakibat rindu melulu.

Salam dariku,
Kasihmu yang selalu merindu"



-Trirati-
Share:

Senin, 18 April 2016

My Lovely Swallow

Assalamu'alaikum, Ncaku...

Persahabatan kita sudah berapa tahun, ya? Hampir sekitar 7 tahun. Wah, sudah lama rupanya :')

Nca, Ofi tahu, Ofi bukanlah sahabat yang baik. Selama ini, Ofi sangat egois. Bahkan Ofi mungkin lebih cenderung terlihat tidak peduli. Ofi sering jahat ya sama Nca? Maaf ya :')

Tapi, Nca harus tahu. Diam-diam, Ofi sering berdoa untuk kita. Apalagi sewaktu kita sedang tak "mesra". Anyway, kita sering sekali berbeda pendapat hingga berakhir tak tegur sapa. Diam-diam Ofi sering mikirin Nca. Ofi sadar betul kalau Nca adalah salah satu sahabat terbaik yang Ofi punya. Walaupun kita miliki watak yang sama, sama-sama keras kepala. Tapi, Ofi bahagia bisa bersahabat dengan Nca, salah satu sahabat yang tidak pernah mundur selangkah pun di keadaan apapun.

Ofi mau kita bisa seperti ini sampai kapanpun. Sampai Nca nikah sama Abang, sampai Ofi nikah juga sama Masil, sampai kita sama-sama miliki anak-anak yang lucu & sholeh-sholeha, sampai anak kita dewasa, sampai kita sama-sama keriput. Ofi mau kita seperti ini terus. Nca mau juga, kan?

Ofi sayang betul sama Nca. Ofi juga sering bilang sama Masil kalau Ofi sayang sama Nca. Enggak, Masil gak cemburu, kok, hehe.

Nca gak perlu takut apapun. Ada Ofi, ada Abang, ada Masil, ada Mama Papa, ada Mba Nessya, ada Brata, ada Rizik, ada banyaaaak orang-orang yang sayang sama Nca dan selalu ada buat Nca. Maaf, untuk saat ini hanya doa Ofi yang menemani Nca, Ofi masih belum bisa. Jadi, peluknya via doa dulu ya? Nanti kalau Ofi bisa, Ofi mau ke rumah Nca. Ofi mau peluk Nca yang lamaaaa. Ofi rindu Nca :(

Ofi tahu Nca wanita kuat. Ofi tahu ini hanyalah masalah kecil buat Nca. Nca lebih kuat dari masalah ini. Kan ada orang-orang yang sayang sama Nca. Yang ikut bantu menguatkan dengan doa.

Mungkin, Nca bingung kenapa Ofi tulis hal ini di blog. Kenapa gak personal chat aja? Karena Ofi mau semua orang tahu, kalau Ofi punya sahabat cantik dan kuat. Sahabat yang gak pernah tinggalin Ofi dalam keadaan apapun.

Dan mungkin, teman-teman yang baca bingung, kenapa judulnya My Lovely Swallow? Karena, sewaktu SMK, Ofi sama Ica selalu berdua kemana pun. Sampai suatu hari, salah satu teman kami, panggil kami Swallow. Sewaktu ditanya mengapa, dia berkata "ya habis, kalian berduaan mulu kaya sendal jepit swallow". Dan akhirnya, sampai saat ini, kita bangga disebut Swallow. Ya kan, Nca? Karena, Swallow gak bisa jalan sendiri, harus sepasang :)

Ofi sayang sama Nca. Kita harus sama-sama semangat yaa. Ofi selalu berdoa buat Nca. Selalu. Gak akan pernah putus  :)

Love you, Ncaku :*

Wassalamu'alaikum..

With love,
Trirati.

Share:

Rabu, 13 April 2016

Orang Ketiga

Assalamu'alaikum~

Ehm, kali ini Ofi mau bahas soal Orang Ketiga. Kenapa? Bisa pengalaman pribadi, bisa dari cerita teman, bisa dari lingkungan sekitar, atau bisa dari program TV (korban tipi) -_-

Dalam sebuah hubungan, bohong rasanya bila tidak pernah terganggu dengan hadirnya orang ketiga. Di dalam sebuah hubungan pun, pasti pernah diganggu dengan Si Orang Ketiga ini. Entah teman sekolah, teman kantor, mantan, atau siapa pun yang rasanya seperti nyamuk yang berdenging di telinga sewaktu kita sedang berduaan sama pacar (re: penganggu).

Sebenarnya, Ofi masih bingung sama tindakan dari orang ketiga ini. Lah wong sudah tahu orang yang didekati punya pasangan, kok ya masih saja berusaha untuk dekat? Maksudnya gimana? Biar yang didekati jadi lebih nyaman sama dia terus putus sama pasangannya, gitu? Ckckck.

Di hubungan Masil sama Ofi pun pernah di-"nyamukin" sama orang ketiga. Entah dari pihak Ofi atau pihak Masil. Pasti ada saja. Entah motivasi mereka itu apa. Suka sih boleh, kagum juga silakan, tapi tolong jangan sampai mengganggu apalagi sampai merusak.

Gini, ketika kamu hadir di suatu hubungan dan kamu berusaha untuk mengganggu apalagi hingga merusak, silakan! Monggo! Tapi, jangan mencak-mencak kalau kelak kamu miliki hubungan yang kamu jaga dengan sangat, lalu tiba-tiba dirusak oleh orang ketiga. Karena, ketika kamu menyakiti, suatu saat akan disakiti. Ketika kamu mengecewakan, suatu saat akan dikecewakan. Ketika kamu menganggu, suatu saat akan diganggu. Hidup kan adil. Hidup penuh dengan timbal balik.

Dan untuk pasangan-pasangan yang mungkin sering terganggu dengan adanya orang ketiga, Ofi ada beberapa saran menurut pengalaman Ofi;
1. Kata Bundadari; kalau pasangan kamu didekati oleh wanita baru di hidupnya, entah teman sekolah, teman kerjanya, atau bahkan teman masa lalunya, biarkan! Kamu cukup mengawasi. Bagaimana pun kamu menjaganya, jika dia berniat mendua, dia akan lakukan. Dan sebaliknya, bagaimana pun "wanita baru" itu menggoda lelakimu, jika lelakimu serius sayang dan tidak ada niatan berpaling, dia tidak akan pernah pergi. Setelahnya, cukup berterimakasih. Dengan begitu, berkat "wanita baru" itu, kamu akan tahu bagaimana lelakimu. Tipe lelaki yang mudah tertarik kah? Atau memang tulus mencinta?

2. Buktikan kalau kamu tak akan melepaskan pasanganmu begitu saja. Buat dia agar selalu nyaman. Terkadang, pasangan kita bisa nyaman sama orang lain karena dia sedang bosan sama kita. Yang pacaran bertahun-tahun pasti sudah tahu bila pasangannya mulai bosan. Cukup dengan membuatnya nyaman kembali. Pikirkan apa yang dia suka, lalu lakukan. Misalnya, bila pasanganmu suka travelling, ajak dia travelling berdua. Atau bila pasanganmu suka kuliner, masak sendiri apa yang dia suka, atau ajak kuliner ke tempat yang belum pernah dia kunjungi. Intinya, buat dia nyaman kembali.

3. Semua balik ke pasangan masing-masing. Ibaratnya kalian berada dalam satu rumah. Ketika ada orang yang datang dengan mengetuk pintu rumahmu, semua tergantung padamu atau pada pasanganmu. Misalnya, kamu yang membuka pintu. Semua tergantung kamu, kamu mau persilakan dia masuk, atau kamu katakan "maaf" karena rumahmu sudah ditempati.

Kurang lebih seperti itu.

Dan untuk kamu yang berperan sebagai orang ketiga. Jujur, tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena, kita tidak bisa memilih pada siapa hati kita akan berlabuh, bukan? Karena cinta itu anugerah dari Tuhan.

Tapi, bila kamu mengetahui orang yang kamu kagumi sudah miliki kekasih, tolong untuk tidak mendekat. Hargai orang yang mungkin akan sangat tersakiti. Hargai mereka yang saling mengasihi. Apa yang kamu harapkan dari rumah yang sudah ditempati? Sedekah cinta? Apakah kamu sehina itu? Jangan terus-menerus berdiri di depan rumah yang telah ditempati. Pergi! Cari rumahmu sendiri, yang belum ditempati tentunya, yang masih kosong.

Kalau ada yang bilang ini pengalaman pribadi, iya, Ofi akui. Karena memang hubungan tidak akan pernah luput dari kasus Orang Ketiga. Beruntungnya, Masil sama Ofi termasuk orang yang tidak mudah kagum, tidak mudah berpindah hati. Ehehe.

Sekian curhatnya. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang hubungannya sedang memanas akibat orang ketiga. Dan semoga bermanfaat juga bagi si orang ketiga. Kalian berhak bahagia juga, asal tidak merusak pasangan bahagia~

Wassalamu'alaikum~

Salam,
Trirati.

Share:

Rabu, 16 Maret 2016

Review; Dilan, Karya Pidi Baiq

Assalamu'alaikuuumm~~

Udah ada yang baca Dilan karya Pidi Baiq? Udah? Oke, udah. ((Maksa))

Kali ini, Ofi mau review tentang Dilan. Entah udah berapa perempuan yang "jatuh cinta" sama Dilan setelah baca novel itu.

Awalnya, di rekomendasiin novel ini sama salah satu teman. Di instagram, path, twitter, dan jejaring sosial lainnya juga banyak sekali yang membahas novel ini. Dan awalnya, gak terlalu tertarik sama novel ini, karena Ofi lebih suka novel yang ber-genre Religi. Dan ekspektasi Ofi tentang novel ini ya sama seperti novel Romance pada umumnya, berisi tentang cinta.

Awalnya, Ofi di kasih link dari blog Pidi Baiq, Sang Penulis. Dan sebenernya, teman Ofi ini amat sangat antusias mengenalkan Ofi dengan Dilan. Kenapa Ofi bilang seperti itu? Karena setiap SMS ataupun Chatting, dia pasti membahas Dilan. Sampai Ofi bingung mau balas apa, karena dia yang semangat cerita tentang Dilan sedangkan Ofi gak paham apapun tentang Dilan.

Setelah Ofi baca, sebenarnya tokoh Dilan ini sudah banyak di novel-novel lainnya. Entah memang terinspirasi dari Dilan yang notabene "nakal" tapi manis, atau bagaimananya Ofi gak paham. Jadi, respon Ofi sewaktu itu ya, biasa aja. Cuma sekedar "Oh", gitu hahaha

Sampai akhirnya, teman Ofi itu kasih pinjam novel Dilan bagian kedua yang dia pinjam dari teman yang lainnya. Bingung? Ya gitulah pokoknya.

Sebenernya agak bingung baca novel ini, karena belum pernah baca Dilan bagian pertama. Tapi, cukuplah untuk sekedar mengenal tokoh di dalamnya.

Gak perlu banyak waktu untuk baca novel yang kurang lebih sekitar 300 halaman itu. Hanya sekitar 9 jam.

Dan selama membaca, Ofi bisa senyum-senyum sendiri, tertawa, sampai terharu. Tapi, perbedaannya adalah, Ofi gak seperti teman-teman yang lainnya. Teman-teman Ofi, sebagian besar, sampai seperti "jatuh cinta" dengan Dilan. Tak heran, kata-kata Dilan yang sederhana namun manis, memang membuat perempuan mana saja tersipu malu. Bahkan, ada yang berkomentar;
"Mau dong punya pacar kaya Dilan"
Dan gak sedikit yang berkomentar demikian. Dan gak sedikit juga yang jatuh cinta sama Dilan.

Sosok seperti Dilan memang idaman para wanita. Karena, Dilan tahu bagaimana cara menghargai dan memperlakukan wanita dengan baik. Jadi, wajar aja yang baca jadi baper hahaha.

Ofi rekomendasiin buat para laki-laki, nih. Karena, siapa sangka, mungkin setelah membaca Dilan ini, kalian jadi lebih paham bagaimana seharusnya bersikap dan memperlakukan wanita.

Kecuali Masil, kalau kamu, gak boleh jadi Dilan. Karena aku gak jatuh cinta dengan sosok seperti Dilan. Aku tetap akan jatuh cinta berkali-kali pada sosok sepertimu. Karena kamu pun tau, aku gak suka dikasih kata-kata romantis, sekali pun sesederhana kata-kata manisnya Dilan. Aku cuma mau kamu yang gak romantis tapi selalu bersikap manis. Itu cukup mampu membuatku tersipu sampai bayanganmu seakan gak pernah lepas dari anganku.Gak usah berubah jadi Dilan, tetap jadi Masilku aja udah lebih dari cukup. Karena yang aku cinta itu kamu, bukan Dilan :p

Oke. Out of Topic banget-_-

Balik lagi ke Dilan. Setelah selesai membaca, Ofi kasih kesimpulan kalau novel ini bagus! Salut juga sama Pidi Baiq, bahasanya ringan, gak terlalu berat sehingga dapat diterima pembaca dengan mudah, jadi gak perlu banyak mikir atau cerna sewaktu membaca. Bisa jadi ajang belajar juga buat orang-orang yang mau belajar sastra ringan, termasuk Ofi. Alur ceritanya juga keren. Walaupun mungkin banyak yang kecewa. Kenapa? Baca sendiri aja :p

Yang belum baca, buruan bacaa!!! Beli, jangan pinjam kaya Ofi :p

Sekiaan, semoga bisa jadi ajang pertimbangan untuk teman-teman yang penasaran sama Dilan.

Have a great Wednesday, People.

Wassalamu'alaikum~

With love,
-Trirati-

Share:

Selasa, 01 Maret 2016

Mencari Teman yang Baik atau Menjadi Teman yang Baik?

Assalamu'alaikuum...

First post on March yaa hihi.

Well, mau cerita lagi nih. Sebenernya bukan cerita Ofi sih, tapi cerita teman hehehe.

Jadi, beberapa hari yang lalu, salah satu teman Ofi cerita tentang masalah dia dan teman-temannya. Disini, Ofi gak akan sebutin nama asli dari mereka, karena Ofi menghindari ghibah. Dan semoga, kita bisa sama-sama ambil pelajaran dari cerita ini.

Sebut saja Saras. Saras memiliki teman sejak ia duduk di bangku SMK, bisa dikatakan mereka sangat dekat. Sampai beberapa tahun setelah lulus pun, mereka tetap menjaga silaturahim yang baik.

Sampai suatu ketika, Saras melakukan kesalahan yang tak disengaja. Saras pergi ke Puncak bersama beberapa teman kuliahnya. Sedari awal perjalanan, salah satu teman Saras memberi obat agar ia tidak merasa lelah selama di perjalanan, mengingat perjalanan Tangerang - Puncak menyita waktu kurang lebih 3 jam. Setelah minum obat tersebut, Saras memang tidak merasa lelah sedikit pun.

Saras pikir, obat yang diberi teman Saras adalah vitamin penambah stamina biasa. Namun ternyata, obat tersebut termasuk dalam daftar obat terlarang. Dan teman SMK Saras mengetahui hal tersebut.

Mengetahui hal tersebut, teman-teman Saras menegur dengan membahas hal ini di grup BBM. Saras merasa tersinggung karena teman-temannya menilai tanpa memberi Saras waktu untuk menjelaskan kronologi yang sebenernya.

"Gue gak ngerti sama lu yang sekarang, Ras. Makin ancur aja pergaulan lu"
Kurang lebih seperti ini penilaian mereka tentang Saras.

Disini, Ofi gak akan membahas obat yang diminum Saras, tapi tertuju pada sikap teman-teman Saras yang Ofi rasa kurang tepat.

Teman-teman, terkadang kita lupa bahwa kita hanya manusia biasa. Manusia yang tidak sepenuhnya sempurna, yang sangat mampu melakukan salah. Begitu pun Saras. Saras hanya manusia biasa. Bahkan kesalahan seperti ini bukan hal yang ia sengaja.

Sebagai teman, memang kewajiban kita untuk menegur saat teman yang lain melakukan kesalahan. Tapi, caranya harus yang baik, lembut, dan tidak menyudutkan. Jangan marah-marah dan langsung menuding bahwa 'dia' salah tanpa mencari tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Bertabayyun itu penting. Mencari tahu kebenaran sebelum menilai dan menyebarkan suatu kabar. Mengapa? Karena, kabar yang salah jika ditelan mentah-mentah dan disebarkan akan menimbulkan fitnah. Dosa yang didapat pun akan berlipat ganda selama kabar tersebut masih menyebar.

Lalu, bagaimana menyikapi & menegur teman yang salah?

1. Bertabayyun. Seperti yang Ofi katakan tadi, mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Cukup dengan mendengarkan penjelasan dari teman yang melakukan kesalahan. Jangan langsung menilai tanpa mau mendengarkan penjelasan yang sebenarnya.

2. Jika teman kita memang salah, tegurlah dengan lembut. Semisal dari kejadian Saras :
"Kok lu gak cari tau atau tanya-tanya dulu sih, Ras? Lain kali, jangan gitu lagi. Nanti kalo nagih gimana?"

3. Memposisikan diri. Kalau ada teman yang salah, coba untuk membalikkan posisi. Kamu yang menjadi temanmu. Tapi jangan asal "gue sih kalo jadi dia bla bla bla", karena kita tak akan sepenuhnya memahami suatu peristiwa jika kita tidak berada di posisi tersebut. Setelah kita membayangkan berada di posisi teman kita yang salah, kita akan dapat lebih bijak untuk memberi nasihat.

Intinya, jangan asal menilai dan marah-marah, sedangkan kita tidak mengetahui kejadian sebenarnya.

----------

Terkadang kita juga sering berpikir "berteman dengan siapa saja". Tapi, sadar atau tidak, teman sangat berpengaruh pada lingkungan kita. Iya, berteman memang boleh dengan siapa saja. Rasul pun tidak memilah-milih dalam hal ini.

Tapi, jika temanmu buruk, yakin kalau kamu gak ikutan jadi buruk? Yakin kamu bisa membawa temanmu untuk menjadi lebih baik? Atau justru kamu yang terseret arus buruknya?

Simak penggalan hadits dan ayat berikut ya :
1. "Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian lihat siapa yang menjadi teman dekatnya" - HR. Abu Daud dan Tirmidzi.

2. "Dan ingatlah ketika orang-orang dzalim menggigit kedua tangannya seraya berkata; 'Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil Fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an sesudah Al Qur'an itu datang kepadaku'. Dan setan itu tidak mau menolong manusia" - QS. Al Furqan : 27-29

3. "Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih sebagai sahabat memiliki lima sifat berikut; orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid'ah, dan bukan orang yang rakus akan dunia" - Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36.

Agama menyarankan kita untuk memilih teman yang sholeh-sholeha, agar kelak di akhirat dapat saling membela di hadapan Allah.

Ofi ada satu cerita lagi. Ini didapat dari akun askfm Wirda Mansur, putri dari Udz. Yusuf Mansur:

Sebut saja A. Ketika di akhirat, A bertanya,
A : Dimana kawan saya?
Allah : ia di neraka.
A : Ya Rabb, bagaimana bisa saya merasakan nikmatnya surga tanpa kawan saya? Saya ingin menikmati surga bersama kawan saya.
Allah : baiklah kalau begitu. Aku angkat dia dari neraka. Apapun untukmu, wahai hamba-Ku yang sholeh.

Buru-buru deh tuh cari teman yang Sholeh-sholeha hihihi.

So, yuk berteman sama orang sholeh-sholeha! Ofi juga sekarang selalu berdoa agar ditemukan dengan orang-orang sholeh-sholeha, agar Ofi juga bisa jadi lebih baik lagi. Enaknya punya teman sholeh, mereka memiliki adab menegur yang sangat lembut. Karena mereka paham bahwa menyakiti hanya akan melunturkan pahala dan menumpuk dosa.

Dan alhamdulillah, sekarang Ofi punya beberapa teman yang insya Allah sholeh-sholeha. Kalau kumpul yang diobrolin soal agama, bukan lagi soal dunia. Alhamdulillah, belajar lagi, lagi, dan lagi. Teman yang kalau Ofi lagi bingung, langsung nyuruh Ofi untuk istikharah, gak lagi deh ada temen yang bilang "pegangan" waktu dikeluhin bingung hehehe.

Mencari teman baik nan sholeh-sholeha memang sulit. Namun, menjadi yang baik dan sholeh-sholeha lebih sulit. Jadi, jangan terus mencari, ubah mindset yuk! Stop mencari tapi kita harus menjadi.

Ofi juga bukan teman yang baik. Sama sekali bukan. Masih banyak salah. Tapi, Ofi butuh teman yang baik, agar Ofi jadi baik. Bukan teman yang menyudutkan atau hanya menyindir setiap salah tanpa berbicara baik-baik dan sembunyi-sembunyi dengan temanmu. Menyebarkan hal yang buruk tentang temanmu, gak akan berpengaruh baik untukmu. Hanya akan membuat hatimu semakin kotor dengan prasangka-prasangka buruk :)

Oh iya, askfm sekarang tampilannya baru ya? Berhubung Ofi baru ganti template, jadi kolom askfm-nya hilang. Ofi udah coba cari cara agar dapat menambahkan widget askfm, tapi nihil. Askfm udah gak sediain widget untuk blog sepertinya :')

Jadiiii, kalau ada yang ingin dibahas, curhat, bertanya, atau apapun. Ofi welcome banget! Sebisa mungkin Ofi tampung. Insya Allah. Boleh tanya-tanya ke askfm atau chat via line : ofitritiaraaw.

Semoga apa yang Ofi tulis kali ini, bisa jadi pembelajaran buat Ofi dan teman-teman sekalian. Dan semoga Allah mempertemukan kita dengan orang-orang baik nan sholeh, agar dapat membimbing kita menjadi lebih baik lagi.

Have a great day, Fellas.

Wassalamu'alaikuum.

With love,
-Trirati-

.
.
.
.
.
Sumber :
- https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html
- askfm : @wrdmnsr

Share:

Senin, 22 Februari 2016

22 for the 66th time

Hai, Kamu..

Kali ini, aku tak akan bercerita tentang bagaimana beruntungnya aku memilikimu. Jika aku menceritakannya, mungkin novel Harry Potter karangan J.K Rowling akan kalah panjang dengan ceritaku tentangmu, hehehe.

Aku hanya ingin berterima kasih padamu.

Terima kasih untuk cinta yang tak biasa.
Aku bersamamu sejak lebih dari 5 tahun lalu. Dengan kehadiranmu, aku mempelajari banyak hal. Ketidak-sempurnaan yang aku miliki dapat dengan mudahnya kau tutupi, begitupun sebaliknya. Aku menyadari bahwa, aku tak akan menemukan pria yang sempurna, namun yang aku butuhkan adalah kamu yang memiliki sifat bertolak belakang denganku. Karena dengan begitu, kau dan aku dapat saling melengkapi.

Aku pun menyadari bahwa di suatu hubungan pasti menemukan ketidak-cocokan. Tak ada satu pun manusia yang dapat 100% cocok dengan pasangannya, karena perbedaan itu pasti. Karena perbedaanlah yang membuat aku dan kamu menjadi satu.

Terima kasih untuk selalu ada.
Kau adalah satu-satunya orang terdekatku yang tak pernah berjanji untuk selalu ada. Namun nyatanya, kau yang tak pernah pergi.

Kau yang selalu siap mengusir mendung lalu melukiskan pelangi hingga membuat senyumku merekah kembali. Kau yang selalu menghapus jejak di pipiku akibat hujan air mata yang tak dapat mereda hingga aku merasa lega.

Terima kasih untuk rasa nyaman dan aman.
Denganmu, aku selalu merasa nyaman serta aman. Dalam suatu hubungan yang terpenting adalah rasa nyaman. Dan aku menemukan rasa nyaman itu pada dirimu. Kau pun selalu mengorbankan kepentinganmu hanya untukku, bagaimana mungkin aku tidak merasa aman?

Aku tak bosan mendengar detak jantungmu, aku menyukai tatapan matamu, aku selalu merindukan senyummu, dan aku selalu membutuhkan bahumu. Bukan hanya sekedar bersandar dari lelahnya beban batinku, namun juga itulah tempat ternyamanku.

Terima kasih untuk kesetiaanmu.
Aku pastikan bahwa kau pernah merasa jenuh atau bosan denganku. Tak heran, bertahun-tahun sudah kau bersamaku, wajar saja bila dua hal itu sempat bersarang dibenakmu.

Di luar sana, pasti ada wanita cantik yang lebih baik dariku, yang memiliki wawasan lebih luas dariku, yang berpenampilan lebih menarik dariku. Namun nyatanya, saat ini kau tetap bersamaku, tanpa adanya pisah di antara kita.

Terima kasih untuk tetap menetap bersama wanita sepertiku, yang mungkin tak sebaik teman wanitamu yang lainnya. Terima kasih untuk tetap di hidupku yang rumit ini. Terima kasih untuk tidak pergi.

Terima kasih untuk kesabaranmu.
Terkadang, aku bersikap berlebihan padamu. Entah cemburu yang berlebihan, kepedulian yang berlebihan, perhatian yang berlebihan, atau bahkan ketidak-pengertian yang berlebihan. Namun, kau selalu sabar menanggapi segala berlebihan yang ada dalam diriku.

Tak jarang pula kau berhadapan dengan watak burukku. Watakku yang egois, tak mau mengalah, selalu ingin didengarkan, dan berjuta watak menyebalkan lainnya. Namun kau tetap sabar menanggapiku dan tak merasa lelah sedikit pun.

Terima kasih untuk diam dalam sabarmu ketika emosi meluap di kepalamu. Karena dengan diammu, kamu tak mudah mengucap kata pisah. Bahkan kata pisah itu tak pernah kau ucapkan.

Terima kasih untuk waktumu.
Aku memahami waktu sibukmu. Namun kamu selalu menyisihkan temu untuk melepas rindu. Walaupun hanya satu kali dalam seminggu, namun itu sudah cukup untuk sekedar mengurangi rindu yang selalu membelenggu.

Tak hanya itu, kau pun tak pernah merasa terganggu bila waktu kerjamu aku sela dengan keluh-kesahku. Kau tak pernah marah atau kesal atas sikap "mengganggu"-ku. Dan bahkan, kau tak jarang tidur larut hanya untuk menemani insomniaku, mengalahkan lelahmu hanya untukku.

Tetaplah bersamaku.
Aku memang tak tahu bagaimana ujung dari hubungan yang telah menahun ini. Namun, aku mengharapkan kamu yang menjadi pendamping di sisa usiaku.

Untukmu, tetaplah bersamaku. Tetap menjadi priaku, tetap menjadi pria terbaikku. Jadikan aku rumahmu, rumah yang kau jadikan alasan untuk pulang ketika kau lelah bermain di luar. Rumah yang tak akan kau tinggalkan. Karena jika kau tinggalkan, bisa saja rumahmu ini di tempati oleh orang lain. Dan ketika kau kembali, sudah ada orang lain yang menempati, sehingga kau pun harus pergi. Namun, aku tak pernah menginginkan kepergianmu. Maka, tetaplah bersamaku.

Untukmu, tetaplah menjadi pria yang ku kenal. Jangan berubah sedikit pun. Tetaplah menjadi Ilham Setianto yang ku kenal sejak lebih dari 6 tahun lalu.

Aku bahagia bersamamu, ku harap kau pun begitu.

Salam Cinta dariku,
Pemilik rindu yang hanya untukmu,
Ofitri Tiara.

Share:

Sabtu, 20 Februari 2016

Kritik Pedas lvl Lima Belas


Assalamu'alaikuuum...

Pernah gak kalian dengar keluhan teman seperti :
"Udah gak usah dinasihati orang kaya dia, percuma. Dia tipe orang yang gak bisa dikritik. Padahal, kritik kan membangun, buat dia jadi lebih baik lagi"

Pernah?

Mungkin teman kalian pernah berkeluh-kesah demikian, atau mungkin kalian sendiri? Hehe.
Kali ini, Ofi akan bahas soal kritik

Sadar atau enggak, terkadang kritik 'membangun' yang kita ucapkan membuat dia --yang menerima kritik-- menjadi tersinggung. Iya memang, niat kita baik, tapi, harus dilihat juga dong si dia tersinggung atau tidak. Kalau dia tersinggung, jangankan untuk terima kritik kamu, mungkin malah dia anggap kamu mengecilkannya. Kalau begitu gimana?
"Ya itu urusan dia dong. Yang penting kita udah niat baik mau kasih masukan agar dia jadi lebih baik"
Jangan salah, orang yang tersinggung bisa sakit hati sama kamu. Dan tau kan kalau buat sakit hati orang lain itu dosa?

Buat kamu yang suka kritik orang lain, terutama mengkritik karya orang lain. Entah itu karya seni rupa, karya tulis, karya musik, karya apa pun itu, Ofi punya sedikit masukkan agar orang yang kamu kritik gak tersinggung.

Pertama
Apresiasi karyanya terlebih dahulu. Misalnya seperti :
  • "eh, gambar kamu bagus banget deh. Tapi, warnanya kurang cerah. Coba diberi sedikit sentuhan merah atau warna cerah lainnya. Aku jamin gambarmu makin bagus"
  • "masakan kamu enak banget. Pasti masaknya pake cinta ya? Tapi, kayanya kurang garam sedikit deh, coba lain kali garamnya diberi lebih, tapi jangan terlalu banyak. Pasti makin enak"
  • "aku baca puisi kamu di blog loh. Bagus bgt. Kata-katanya nyentuh. Tapi kayanya ada beberapa rima yang kurang nyambung deh. Lain kali, coba rimanya dibuat jadi lebih teratur. Pasti makin bagus & banyak yang suka"

Itu beberapa contohnya. Karena, apresiasi yang cukup dan tidak berlebihan itu akan membuat si dia jadi lebih semangat untuk berkarya. Dia mendapat masukkan positif dan gak akan merasa tersinggung.

Kedua
Jangan mencela atau merendahkan karyanya. Misalnya seperti :
  • "eh gambar kamu kok warnanya gak nyambung gitu sih? Gak sepadan warnanya"
  • "ya ampun, kamu masaknya asin banget. Kebelet kawin?"
  • "eh aku abis baca puisi kamu di blog. Kok rimanya gak nyambung gitu deh? Tau rima kan?"

Itu beberapa contoh aja. Pedes ya? Iya, apalagi ditambah "hahaha". Terkesan menjatuhkan. Gak ada solusinya pula. Sebenernya kritik macam ini masih bisa membangun si dia. Tapi, kurang bisa diterima. Bisa jadi kalau si dia sensitif dan mudah tersinggung, dia jadi sakit hati dan berhenti berkarya. Kan kasihan.

Ketiga
Jangan merasa lebih baik. Kalau yang ini gak ada contoh, gak paham harus kasih contoh macam apa, karena terkadang sikap seperti ini ada di intonasi saat berbicara. Nada bicara pun harus lembut, jangan mengecilkan dia seolah kita lebih baik. Sombong. Tepatnya begitu.

Intinya, jangan anggap orang lain lebih kecil dari kamu. Apalagi dalam hal berkarya.

-----------

Kadang, orang lain memang lebih mudah mengkritik dari pada menghargai karya orang lain. Padahal, kalau diminta membuat suatu karya pun mereka belum tentu bisa lebih baik dari orang yang di kritik.
Orang yang diberi kritikan pun harus bisa mawas diri. Benar atau tidaknya kritikan itu, membuatnya lebih baik atau tidak. Kalau memang tidak ada yang salah dalam kritikan yang diberi orang lain, ya monggo diterapkan.

Ingat, selera orang dalam seni berbeda-beda. Dan terkadang, si Pengkritik memberi masukkan sesuai seleranya. Jika itu tidak sesuai denganmu, acuhkan! Dalam berkarya, kita patut menjadi diri sendiri, agar karya kita mempunyai ciri khas tersendiri.

Dan jika kritikan yang diberi membuat kamu merasa diintimidasi ataupun tidak dihargai, acuhkan! Teruslah berkarya, karena terkadang ada beberapa orang yang memang sengaja menjatuhkan lewat kritikan :')

Dan untuk yang hobi mengkritik. Jadilah pengkritik yang cerdas dan sopan. Orang cerdas dan sopan, tak akan menjatuhkan karya orang lain, sekali pun berniat untuk memberi masukan positif. Terkadang, kritikannya positif, tapi caranya negatif-_-

Dan, jangan asal nilai "dia bukan tipe orang yang bisa terima kritikan orang lain", karena bisa jadi caramu dalam mengkritiklah yang salah :)

Sebenarnya, artikel ini juga untuk Ofi lebih mawas diri. Sebagai sarana pengingat aja kalau Ofi juga harus lapang dada & menjadi pengkritik yang tak menyinggung perasaan orang lain. Jadi, gak bermaksud menggurui ya! Ini menurut pendapat Ofi aja. Karena Ofi sering dapat kritikan pedas & merasa dijatuhkan. Beruntung ada Mama yang selalu mengingatkan.

Ofi dapat pelajaran "mengkritik yang baik" seperti ini sebenarnya dari Masil. Karena, setiap Ofi masak dan dirasa kurang sesuatu, dia selalu mengapresiasi masakan Ofi dulu. Setelah itu baru diberi masukkan.

Berbeda dengan beberapa orang yang selalu mengkritik dengan pedas. Ofi jadi merasa dikecilkan & dijatuhkan. Pokoknya, merasa kalau karya Ofi selalu buruk. Dan Ofi sadar, kalau cara Masil ini lebih halus dan lembut. Ofi sama sekali gak tersinggung setiap Masil kasih masukkan. Lebih bisa diterima. Bukan, bukan karena dia lebih spesial juga. Itu beda hal :p

Sekian. Sekali lagi, Ofi gak bermaksud menggurui ya. Saling berbagi hal positif aja :)

Thank you for reading.

Wassalamu'alaikum~

With love,
Trirati
Share:

Hi!

Assalamu'alaikuuuumm..

O my God, akhirnya setelah sekian lama bisa blogging lagiiii :')

Jadi, Januari kemarin tukar handphone sama Adik. Karena OS-nya beda, jadi gak paham kenapa di handphone ini gak bisa login aplikasi blogger via yahoo. Berhari-hari cari solusi dari Google, tapi gak dapat dan akhirnya nyerah. Pft.
Karena udah banyak hal yang mau di share, dengan amat sangat terpaksa Ofi ganti email bloggernya :') Agak aneh sih sebenernya, dari 2011-an nge-blog via email yahoo, sekarang jadi Gmail. Hiks. *okeinilebay*

Well, disini Ofi gak akan bahas apa-apa, cuma mau promo nih, huehehe. Ofi mau promoin 2 hal :

1. Ofi baru aja coba beraniin diri untuk keluar zona aman. Kebetulan, Ofi udah lama banget punya account Wattpad, tapi selama ini cuma jadi silent-reader aja. Karena, jujur, gak berani untuk nulis novel atau sekedar cerita pendek. Kenapa? Karena masih sadar kalau bahasa penulisan Ofi belum baik, masih acak-acakan._.

Tapi akhirnya, *jengjengjeng* Ofi beraniin diri untuk nulis setelah sekian banyak baca novel ber-genre teen fiction di Wattpad dan stalking twitter tentang penulisan novel. Dari mulai karakter, alur cerita, konflik, banyak deh pokoknya.



Cerita pertama Ofi ber-genre Teenfic Religi. Judulnya Aku, Kamu, dan Tuhan. Kenapa harus Religi? Karena, Ofi mau apa pun yang Ofi share ke teman-teman bisa jadi pelajaran & amal jariyyah buat Ofi sendiri. Iya, Ofi memang masih sangat jauh dari baik. Tapi setidaknya, Ofi selalu berusaha jadi lebih baik. Apalagi dengan cerita ini, semoga bisa jadi ajang muhasabah diri untuk Ofi sendiri & sama-sama belajar dengan teman-teman sekalian.

Klik di sini untuk berkunjung ke cerita di Wattpad Ofi. Lumayan kan buat isi waktu luang :3 Jangan lupa follow juga ya bagi kalian yang punya Wattpad, followers Ofi baru 1 :(

2. Ofi baru aja download Tumblr. Awalnya cuma iseng & hitung-hitung sebagai pengganti meluapkan isi hati karena aplikasi blogger yang tak kunjung mendapatkan solusi. Tapi, isinya akan beda sama blog ini, kook. Di tumblr, Ofi cuma post semacam quotes aja, atau chit-chat Ofi sama Masil, atau puisi Ofi yang sajak dan baitnya selalu random itu ehehehe-_-

Selama ini, quotes atau sebagainya itu selalu Ofi share via twitter/facebook, atau bahkan cuma via status BBM aja. Gak ke arsip gitu. Via twitter/facebook tenggelam, via BBM malah ngilang-_- Kalau di tumblr kan ke-arsip.

Dan buat teman-teman yang punya account Tumblr, monggo di follow. Atau buat teman-teman yang gak punya account, bisa di baca-baca aja. Tapiii, Ofi mohon banget kalau ada kata-kata yang dirasa bagus & mau di re-post, sertain nama Ofi yaa. Bukan gimana-gimana sih, cuma setiap karya kan lebih baik dihargai dengan mencantumkan si creator. Jadi, yang berkarya pun merasa dihargai & semangat berkarya terus. Iya sih, karya Ofi masih tulisan-tulisan receh, tapi tetap memiliki hak untuk dihargai :)

Klik di sini untuk berkunjung ke Tumblr Ofi :)

Sekian promonya. Terima kasih untuk yang rela baca blog ini. Seneng rasanya ketika tau kalau setiap harinya ada aja yang buka blog ini ❤

Have a sweet Saturday, Fellas.

With love,
Trirati ❤

Wassalamu'alaikuuum~
Share: